Dr. Muhammad Sholihin Fanani, M.PSDM. Wakil Ketua PWM Jawa TImur.

7 Hikmah Mendalam di Balik Perayaan Iduladha yang Wajib Kita Renungkan

Menjelang tibanya Hari Raya Iduladha 1447 H / 2026 M, umat Islam di seluruh penjuru dunia bersiap menyambut hari yang penuh keberkahan ini. Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah resmi mengeluarkan maklumat bahwa 9 Zulhijah 1447 H (Hari Arafah) jatuh pada Selasa, 26 Mei 2026, dan 10 Zulhijah 1447 H (Iduladha) jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026.

Iduladha sejatinya tidak boleh diperlakukan sekadar sebagai rutinitas tahunan yang identik dengan penyembelihan hewan kurban belaka. Jauh lebih dari itu, umat Islam diharapkan mampu menyelami dan mengambil hikmah terdalam yang tersimpan di balik perayaan agung ini.

Berikut adalah tujuh hikmah utama yang dapat kita petik secara mendalam dari momentum Hari Raya Iduladha:

  1. Mengajarkan Ketaatan yang Mutlak kepada Allah Swt

Iduladha berpijak pada kisah agung Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS yang menjadi tonggak sejarah pengorbanan dalam Islam. Tatkala Allah Swt menurunkan perintah kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih putra yang paling ia cintai, perintah yang teramat berat itu disambut dengan kepasrahan dan ketundukan penuh oleh keduanya. Momen luar biasa ini diabadikan selamanya dalam firman Allah:

“Ketika keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya…” (QS. Ash-Shaffat: 103)

  1. Menempa Jiwa yang Ikhlas dan Siap Berkorban

Ibadah kurban merupakan perlambang keikhlasan yang paling murni. Allah Swt tidak memandang wujud fisik hewan yang disembelih, melainkan melihat ketulusan dan kejernihan hati sang hamba. Allah SWT berfirman:

“Daging dan darahnya tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu.” (QS. Al-Hajj: 37)

Keikhlasan inilah yang menjadi penentu sejati diterima atau tidaknya sebuah amal ibadah di sisi Allah SWT.

  1. Menumbuhkan Kepekaan dan Kepedulian Sosial

Iduladha mendidik dan membentuk umat Islam untuk memiliki kepedulian sosial yang tinggi terhadap sesama. Di tengah arus kehidupan modern yang kian individualistis, agama justru memerintahkan kita untuk senantiasa memperhatikan nasib anak-anak yatim dan kaum fakir miskin. Mengabaikan dan berpaling dari penderitaan mereka bahkan dapat mengategorikan seseorang sebagai pendusta agama, sebagaimana peringatan tegas Allah Swt dalam Surat Al-Ma’un ayat 1–7.

  1. Menghancurkan Ego dan Melenyapkan Kecintaan Berlebih pada Dunia

Penyembelihan hewan kurban pada hakikatnya adalah simbol untuk “menyembelih” sifat-sifat tercela yang bersarang dalam diri — pelit, sombong, malas beribadah, dan kecintaan yang melampaui batas terhadap kehidupan dunia. Sifat-sifat buruk inilah yang harus diikis habis dari dalam diri agar kita menjelma menjadi pribadi yang mulia, baik di hadapan Allah Swt maupun dalam pandangan sesama manusia.

  1. Mengokohkan Ukhuwah dan Mempersatukan Umat

Tradisi saling berbagi daging kurban terbukti menjadi sarana yang ampuh dalam mempererat tali ukhuwah Islamiyah dan memperkokoh persatuan umat. Budaya saling memberi merupakan anjuran mulia dalam Islam yang mampu membuka pintu surga, menumbuhkan benih kasih sayang, sekaligus memudarkan bibit-bibit permusuhan. Islam senantiasa memerintahkan pemeluknya untuk saling bahu-membahu dalam kebaikan dan ketakwaan.

  1. Mengingat Hari Akhir sebagai Tujuan Hakiki

Momentum Iduladha sekaligus mengingatkan kita dengan penuh kesadaran bahwa kehidupan dunia ini bersifat sementara dan fana. Pada waktunya nanti, kita semua pasti akan kembali menghadap Allah Swt untuk mempertanggungjawabkan setiap perbuatan. Oleh karena itu, jangan sampai kesenangan dan kesibukan duniawi meninabobokan kita hingga lalai mempersiapkan bekal terbaik menuju kehidupan akhirat yang kekal dan abadi.

  1. Menghidupkan Kembali Syariat Nabi Ibrahim AS

Rasulullah SAW bersabda: “Kurban itu adalah sunnah bapak kalian, Ibrahim.” (HR. Ahmad)

Nabi Ibrahim AS adalah utusan Allah yang memiliki kemurnian tauhid yang luar biasa sehingga dianugerahi gelar mulia Khalilullah — kekasih Allah. Beliau adalah sosok muslim yang hanif — sempurna dan lurus dalam menjalankan seluruh perintah Allah. Meneladani perjalanan hidup Nabi Ibrahim berarti membangun fondasi ketaatan dan ketakwaan yang kokoh dalam setiap sendi kehidupan kita.

Inti terdalam dari perayaan Iduladha adalah sejauh mana kita mampu mengambil pelajaran hidup yang berharga dari keteladanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Dengan sungguh-sungguh meresapi nilai-nilai agung tersebut, diharapkan akan lahir “keluarga-keluarga Ibrahim” yang tangguh, bertakwa, dan siap menghadapi tantangan zaman di era modern ini. 🤲🏻

Referensi : majelistabligh.id

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *