amalan utama di bulan Dzulhijjah

6 Amalan Utama 10 Hari Pertama Dzulhijjah yang Sangat Dianjurkan dalam Islam

Insya Allah, besok kita akan menapaki awal bulan Dzulhijjah — bulan yang di dalamnya tersimpan hari-hari terbaik sepanjang tahun. Pada hari-hari penuh berkah itu, pintu-pintu pahala terbuka selebar-lebarnya. Amalan yang mungkin terasa biasa di hari-hari lainnya, bisa bernilai luar biasa besar di hadapan Allah pada momen ini. Berikut adalah ragam amalan utama sepuluh hari pertama Dzulhijjah yang sangat dianjurkan dalam ajaran Islam.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menegaskan bahwa tidak ada hari-hari di mana amalan saleh lebih dicintai Allah melebihi amalan yang dilakukan pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Karena itulah, para ulama sangat menganjurkan umat Islam untuk mempergiat ibadah dan memperbanyak amal kebaikan pada hari-hari istimewa tersebut.

Di tengah rutinitas kehidupan yang kian padat, sepuluh hari pertama Dzulhijjah hadir sebagai momentum emas untuk kembali mendekat kepada Allah. Ada di antara kita yang mungkin belum memiliki kesempatan untuk menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci — namun Allah tetap membentangkan banyak jalan menuju pahala melalui amalan-amalan lainnya.

  1. Haji dan Umrah

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Dari umrah ke umrah adalah tebusan dosa di antara keduanya, dan haji yang mabrur balasannya tiada lain adalah surga.”

Betapa beruntung mereka yang mendapat panggilan Allah untuk menjadi tamu-Nya di Baitullah. Namun bagi yang belum mendapat giliran, janganlah merasa jauh dari kasih sayang dan rahmat-Nya. Semangat berkorban dan ketundukan total yang menjadi ruh ibadah haji sejatinya bisa dihadirkan dalam setiap sendi kehidupan sehari-hari.

Renungkanlah seorang ayah yang berjuang keras setiap hari demi menghidupi keluarganya dengan penghasilan yang halal. Ia dengan teguh menjauhkan diri dari rezeki yang haram meskipun peluang itu ada di depan matanya. Kegigihan dan kesabarannya dalam menjaga batas halal-haram itulah bagian dari ibadah yang sangat Allah cintai.

  1. Berpuasa, Terutama di Hari Arafah

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Berpuasa pada hari Arafah karena mengharap pahala dari Allah, melebur dosa setahun sebelum dan sesudahnya.” (HR. Muslim)

Puasa Arafah bukan sekadar menahan rasa lapar dan haus semata. Ia melatih hati untuk menjadi lebih sabar, lebih lembut, dan lebih dekat kepada Sang Pencipta. Di samping puasa Arafah, terdapat pula puasa sunnah lainnya yang bisa dikerjakan pada hari-hari ini, seperti puasa Senin-Kamis maupun puasa Dawud.

Seringkali dalam kesibukan hidup, manusia terlalu sibuk mengejar urusan dunia hingga lupa menenangkan jiwanya sendiri. Ada pegawai yang setiap harinya dikejar target pekerjaan. Ada ibu rumah tangga yang kelelahan mengurus keluarga dari pagi hingga larut malam. Ada pula mahasiswa yang gelisah memikirkan masa depannya. Di tengah kelelahan itu semua, puasa menjadi ruang berharga untuk berhenti sejenak — memperbaiki hati dan mengingat kembali bahwa hidup ini bukan sekadar tentang dunia.

  1. Memperbanyak Takbir dan Zikir

Berdasarkan hadis dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhuma: “Maka perbanyaklah pada hari-hari itu tahlil, takbir, dan tahmid.” (HR. Ahmad)

Kalimat-kalimat zikir memang terasa ringan di lisan, namun bobotnya sangat berat dalam timbangan amal. Tidak jarang seseorang merasa hidupnya dipenuhi masalah — hatinya resah oleh tekanan ekonomi, beban pekerjaan, atau persoalan keluarga. Namun ketika lisannya mulai basah dengan kalimat Allahu Akbar, perlahan namun pasti hatinya kembali tenteram. Zikir mengingatkan manusia bahwa Allah jauh lebih besar dari seluruh persoalan yang ada.

Ada seorang bapak sederhana yang setiap pagi berjalan menuju masjid sambil melantunkan takbir pelan-pelan. Hidupnya mungkin tidak berlimpah harta, namun wajahnya selalu tampak teduh — karena hatinya dipenuhi kedekatan yang tulus kepada Allah.

  1. Bertobat dan Meninggalkan Perbuatan Maksiat

“Sesungguhnya Allah itu cemburu, dan kecemburuan Allah itu manakala seorang hamba melakukan apa yang diharamkan Allah.” (Hadis Muttafaqun ‘Alaihi)

Sepuluh hari pertama Dzulhijjah juga merupakan waktu paling tepat untuk berbenah diri dan bertobat kepada Allah. Tobat bukan hanya milik mereka yang merasa memikul banyak dosa — tobat adalah kebutuhan setiap insan yang mendambakan kedekatan lebih dengan Penciptanya.

Ada yang selama ini mudah meledak amarahnya kepada orang-orang terdekat. Ada yang terbiasa menunda-nunda salat. Ada pula yang lisannya kerap menyakiti perasaan orang lain. Dzulhijjah mengajarkan bahwa perubahan selalu bisa dimulai, meskipun dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara perlahan.

Terkadang tobat cukup dimulai dari hal sederhana: meminta maaf kepada orang tua, menghentikan kebiasaan membuka konten yang diharamkan, atau mulai membiasakan diri menunaikan salat berjamaah. Langkah kecil yang dijalani dengan keikhlasan bisa menjadi titik awal dari perubahan besar dalam hidup seseorang.

  1. Memperbanyak Amal Saleh

Ibadah-ibadah sunnah seperti salat, sedekah, membaca Al-Qur’an, amar ma’ruf nahi munkar, dan beragam amal kebaikan lainnya sangat dianjurkan untuk diperbanyak pada hari-hari ini — karena pahalanya dilipatgandakan oleh Allah pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah.

Bahkan amalan yang tampak sederhana dan biasa pun bisa menjadi sangat mulia nilainya di hadapan Allah bila dikerjakan pada hari-hari istimewa ini.

Mungkin hanya sekadar membantu tetangga yang sedang kesusahan. Mungkin sekadar membelikan makanan untuk seseorang yang kelaparan. Atau mungkin hanya mengirimkan pesan singkat untuk menguatkan hati teman yang sedang dilanda kesedihan. Hal-hal kecil seperti ini sering dianggap sepele, padahal bisa menjadi amal besar yang sangat berarti di sisi Allah.

Ada seseorang yang diam-diam menyisihkan sebagian gajinya setiap bulan untuk membantu anak-anak yatim. Tidak banyak orang yang mengetahuinya. Namun boleh jadi, amal itulah yang kelak menjadi penyelamatnya di akhirat.

  1. Berkurban

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkurban dengan dua ekor domba jantan berwarna putih dan bertanduk. Beliau sendiri yang menyembelihnya sambil menyebut nama Allah dan bertakbir.

Kurban bukan semata-mata tentang menyembelih hewan. Kurban adalah pelajaran hidup tentang keikhlasan dan pengorbanan yang tulus.

Sejatinya, setiap orang dalam hidupnya tengah belajar untuk berkurban dengan caranya sendiri. Ada orang tua yang merelakan waktu dan tenaganya demi pendidikan anak-anak mereka. Ada guru yang tetap mengajar dengan penuh dedikasi meski tubuh dan pikirannya lelah. Ada pula seseorang yang rela menahan egonya demi menjaga kerukunan dan persaudaraan.

Semua pengorbanan yang dilakukan dengan tulus karena Allah tidak akan pernah berlalu sia-sia.

Maka jangan biarkan sepuluh hari pertama Dzulhijjah berlalu begitu saja tanpa diisi dengan amal nyata. Bisa jadi inilah kesempatan terbaik yang Allah hadirkan — untuk menghapus dosa-dosa yang lalu, melipatgandakan pahala, dan semakin mendekatkan diri kepada-Nya.

Karena kita tidak pernah tahu… apakah tahun depan kita masih diberi kesempatan untuk berjumpa kembali dengan Dzulhijjah. 🤲🏻

Referensi : pwmu.co

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *