Safar: Bulan Penuh Sejarah yang Mengubah Peradaban Islam

Memasuki bulan Safar, umat Islam kembali diajak menyelami salah satu lembaran paling menentukan dalam sejarah peradaban Islam. Berdasarkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang digunakan Muhammadiyah, 1 Safar 1448 H bertepatan dengan 15 Juli 2026. Lebih dari sekadar pergantian bulan dalam kalender Hijriah, Safar menyimpan jejak-jejak bersejarah yang membentuk fondasi Islam hingga hari ini.

Secara etimologis, kata safar berasal dari bahasa Arab yang berarti sepi atau sunyi — merujuk pada kebiasaan penduduk Arab kuno yang banyak meninggalkan rumah untuk bepergian. Hal ini termaktub dalam kitab Ibnu Mandzur:

لِإِصْفَارِ مَكَّةَ مِنْ أَهْلِهَا إِذَا سَافَرُو

“Karena kosongnya Makkah dari penduduknya apabila mereka bepergian.” (Ibnu Mandzur, Lisânul ‘Arab, Dar el-Shâdir, Beirut, juz 4, halaman 460)

Safar: Bulan Dimulainya Hijrah Rasulullah SAW

Hijrah Rasulullah SAW kerap dikaitkan dengan datangnya Tahun Baru Hijriah di bulan Muharram. Namun secara historis, keberangkatan Rasulullah SAW dari Makkah menuju Madinah justru berlangsung pada bulan Safar — sebuah fakta yang sering luput dari perhatian banyak kalangan.

Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Akhmad Arif Rifan, dalam Pengajian Malam Selasa di Yogyakarta menjelaskan bahwa Rasulullah SAW memulai hijrah pada 27 Safar tahun ke-14 kenabian, yang bertepatan dengan sekitar 12 atau 13 September 622 M. Beliau berangkat dari Makkah pada akhir bulan Safar dan tiba di Madinah pada bulan Rabiul Awal.

Adapun penetapan Muharram sebagai awal Tahun Hijriah baru dilakukan pada masa Khalifah Umar bin Khattab RA, karena bulan tersebut dipandang sebagai awal dimulainya tekad kaum Muslimin untuk berhijrah setelah Baiat Aqabah. Dengan demikian, Muharram menjadi penanda awal kalender Islam, sementara peristiwa hijrah itu sendiri secara nyata berlangsung pada bulan Safar.

Tiga Fondasi Peradaban yang Dibangun Rasulullah di Madinah

Sesampainya di Madinah, Rasulullah SAW segera membangun fondasi masyarakat Islam melalui tiga langkah besar yang saling menopang.

Pertama, mendirikan Masjid Nabawi sebagai pusat ibadah, pendidikan, musyawarah, pelayanan sosial, dan pembinaan umat. Masjid ini bukan sekadar tempat shalat, melainkan jantung dari seluruh kebijakan yang membangun tatanan masyarakat Madinah.

Kedua, mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar dalam ikatan ukhuwah yang melampaui hubungan darah, suku, maupun status sosial. Al-Qur’an mengabadikan kemuliaan kaum Anshar yang lebih mengutamakan saudaranya daripada diri sendiri, meskipun mereka pun berada dalam kondisi kekurangan.

Ketiga, menyusun perjanjian yang mengatur kehidupan internal umat Islam sekaligus membangun tatanan sosial yang tertib di Madinah — sebuah fondasi masyarakat yang damai, adil, dan mampu hidup berdampingan dalam keberagaman.

Merujuk pada buku Sirah Nabawiyyah karya Abul Hasan Ali Al-Hasani An Nadwi, hijrah Rasulullah SAW mengajarkan bahwa dakwah dan akidah mampu melepaskan seseorang dari segala yang dicintainya — sementara tidak ada sesuatu pun di dunia yang mampu melepaskan dakwah dan akidah dari hati seorang mukmin yang teguh.

12 Peristiwa Penting di Bulan Safar yang Mengubah Sejarah Islam

  1. Pernikahan Rasulullah SAW dengan Sayyidah Khadijah

Rasulullah SAW pertama kali menikah dengan Sayyidah Khadijah binti Khuwailid — yang dikenal sebagai Ummul Mukminin. Menurut Ibnu Ishak, pernikahan ini berlangsung tepat di bulan Safar ketika Rasulullah SAW berusia 26 tahun, sebelum datangnya wahyu pertama.

  1. Hijrah Pertama Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah

Rasulullah SAW berangkat dari Makkah pada bulan Safar dan tiba di Madinah pada bulan Rabiul Awal — menjadi titik balik terbesar dalam perjalanan dakwah Islam.

  1. Pernikahan Sayyidah Fatimah dengan Ali bin Abi Thalib

Rasulullah SAW menikahkan putri tercintanya, Sayyidah Fatimah Az-Zahra, dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib di bulan Safar pada tahun kedua Hijriah — pernikahan yang penuh berkah dan sukacita.

  1. Perang Pertama dalam Islam: Perang Al-Abwa

Perang Al-Abwa diperkirakan terjadi pada tahun pertama Hijriah dan merupakan ghazwah pertama yang dipimpin langsung oleh Rasulullah SAW. Sebagian ulama menyebutnya juga sebagai Perang Buwath.

  1. Penaklukan Khaibar pada Tahun ke-7 Hijriah

Pasukan Muslim berhasil menaklukkan benteng-benteng Khaibar — termasuk Nai’im dan Al-Qamus — dengan peran krusial Ali bin Abi Thalib. Setelah penaklukan, Rasulullah SAW memberi kebebasan penduduk Khaibar untuk tinggal dengan syarat membayar pajak dan menyerahkan sebagian hasil pertanian. Penaklukan ini memperkuat posisi Islam di Jazirah Arab secara signifikan.

  1. Ekspedisi Qutbah bin Amir bin Hadidah

Pada bulan Safar tahun ke-9 Hijriah, Rasulullah SAW mengirim Qutbah bin Amir bin Hadidah bersama 20 prajurit menyerang suku Khas’am di Bishah. Pasukan Muslim berhasil kembali ke Madinah dengan selamat setelah musuh yang mengejar mereka terhalang oleh banjir.

  1. Perang Dzu’Amr

Pada bulan Safar tahun ketiga Hijriah, Rasulullah SAW bergerak ke Dzu’Amr dengan 450 pasukan untuk menghadapi rencana serangan kabilah Banu Tha’laba dan Banu Muharib. Mengetahui kedatangan pasukan Muslim, musuh melarikan diri ke pegunungan sehingga wilayah dikuasai tanpa perlawanan.

  1. Masuk Islamnya Amr bin Ash

Amr bin Ash — pemimpin Quraisy yang dikenal sebagai “Pembebas Mesir” karena berhasil menaklukkan Mesir dari kekuasaan Romawi dan Persia — memeluk Islam pada bulan Safar tahun ke-8 Hijriah setelah mendapat pengaruh dari Raja Negus, penguasa Habasyah (Ethiopia).

  1. Utusan Bani Udzra Menghadap Rasulullah SAW

Pada tahun ke-9 Hijriah, Rasulullah SAW menerima 12 orang utusan dari Bani Udzra di bulan Safar. Beliau menyambut mereka dengan kabar gembira tentang kemenangan di Syam dan memberikan arahan untuk tidak bergantung kepada dukun serta melarang penyembelihan hewan di luar kepentingan qurban.

  1. Ekspedisi Usamah bin Zaid ke Wilayah Romawi

Usamah bin Zaid, panglima militer muda sahabat Nabi, memimpin ekspedisi ke wilayah Romawi Timur sekitar tahun 629 M di bawah kepemimpinan Khalifah Abu Bakar As-Siddiq dan Khalifah Umar bin Khattab. Catatan sejarahnya termuat dalam karya klasik Al-Tabari.

  1. Persidangan Darul Nadwah

Pada tahun 620 Masehi, para pemimpin Quraisy menggelar Persidangan Darul Nadwah di Makkah untuk membahas strategi menghadapi penyebaran Islam — mempertimbangkan opsi pengasingan, penahanan, hingga pembunuhan Rasulullah SAW. Peristiwa ini mencerminkan ketegangan besar antara kekuasaan tradisional Quraisy dan pesan revolusioner Islam.

  1. Tragedi Al-Rajah

Pada bulan Safar tahun ke-4 Hijriah (626 Masehi), ekspedisi yang dikirim Rasulullah SAW ke wilayah suku Banu Lihyan mengalami kegagalan dengan banyak korban jiwa di pihak Muslim. Peristiwa ini mendorong Rasulullah SAW mengevaluasi kembali strategi militer demi melindungi dan memperluas komunitas Islam.

Safar: Pengingat bahwa Perubahan Besar Lahir dari Keberanian

Dua belas peristiwa besar yang terukir dalam bulan Safar ini bukan sekadar catatan sejarah di lembar-lembar kitab kuno. Ia adalah pelajaran hidup yang tetap relevan sepanjang zaman — mengajarkan bahwa Islam dibangun di atas keberanian, pengorbanan, persaudaraan, dan keteguhan iman.

Datangnya bulan Safar adalah pengingat bahwa perubahan besar selalu diawali oleh keberanian meninggalkan keburukan menuju kebaikan. Meneladani hijrah dan perjuangan Rasulullah SAW berarti terus memperbaiki diri, menjaga integritas, mempererat persaudaraan, dan menjadikan sirah Nabi sebagai kompas dalam setiap langkah kehidupan.

Barangsiapa yang menginginkan kebahagiaan dan keselamatan, hendaknya mengikuti petunjuk Rasulullah SAW, mengenal perjalanan hidup beliau, serta meneladani akhlaknya dalam setiap aspek kehidupan.

Referensi : muhammadiyah.or.id | majelishtabligh.id

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *