Pesan untuk senantiasa bersyukur kepada Allah Ta’ala sudah menjadi tradisi yang sangat mulia di berbagai kesempatan. Seorang penceramah selalu mengawali tausiyahnya dengan wasiat bersyukur. Seorang penulis pun tak lupa mengucapkan Alhamdulillah di bagian pengantar bukunya sebagai ungkapan rasa syukur atas taufik yang Allah berikan. Begitu pula para pengajar yang memulai sesi pembelajaran dengan kesyukuran kepada Allah Ta’ala. Semua ini adalah kebiasaan yang sangat terpuji dan wajib terus dilestarikan.
Wasiat untuk bersyukur ini bukan sekadar formalitas atau basa-basi sebagaimana yang sering disalahpahami oleh sebagian orang. Ada yang sengaja meninggalkan ungkapan syukur ini dengan alasan hanya basa-basi yang membuang-buang waktu — sebuah anggapan yang keliru dan perlu diluruskan.
Mengapa Bersyukur Itu Sangat Penting?
Pentingnya wasiat bersyukur kepada Allah Ta’ala berakar dari kenyataan bahwa manusia sangat mudah lupa terhadap nikmat-nikmat yang telah diterimanya. Jantung yang berdetak teratur setiap saat tanpa kita kendalikan, paru-paru yang bernafas bebas tanpa kita pikirkan, serta seluruh organ tubuh yang bekerja sesuai fungsinya masing-masing — semuanya adalah nikmat yang luar biasa besar. Hakikatnya, kita sangat lemah dan tidak memiliki daya maupun kekuatan sedikit pun kecuali yang datang dari Allah Ta’ala.
Karena besarnya urgensi rasa syukur ini, Rasulullah SAW memberikan teladan nyata dengan selalu mengawali setiap khutbah hajat beliau dengan ungkapan pujian dan kesyukuran:
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا فَمَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
“Segala puji bagi Allah (kami memuji-Nya), mohon pertolongan kepada-Nya, dan memohon ampunan kepada-Nya. Serta kami memohon perlindungan kepada-Nya dari kejahatan jiwa kami dan dari keburukan amalan kami. Barangsiapa yang diberikan petunjuk oleh Allah, tidak ada seorang pun yang menyesatkannya. Dan barangsiapa yang disesatkan, maka tidak ada yang memberinya petunjuk. Saya bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah (semata, tidak ada sekutu bagi-Nya), dan saya bersaksi bahwa Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba dan utusan-Nya.” (HR. Imam Tirmidzi)
Ketika seorang penceramah mengajak kita bersyukur, atau ketika penulis sebuah buku mengungkapkan rasa syukurnya, hendaknya kita benar-benar menghayati betapa besarnya nikmat yang Allah Ta’ala anugerahkan kepada kita. Kita sadari bahwa semua nikmat itu bersumber dari-Nya, kita ungkapkan dengan lisan melalui ucapan Alhamdulillah, dan kita buktikan melalui ketaatan kepada Allah Ta’ala.
Allah Ta’ala Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang telah melimpahkan nikmat yang sangat besar. Bahkan jika kita berusaha menghitung-hitungnya, niscaya kita tidak akan sanggup. Sebagaimana Allah Ta’ala tegaskan dalam Surah An-Nahl ayat 18:
وَإِن تَعُدُّوا۟ نِعْمَةَ ٱللَّهِ لَا تُحْصُوهَآ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
4 Keutamaan Bersyukur kepada Allah Ta’ala
- Bersyukur adalah Wujud Ketaatan kepada Allah
Dengan bersyukur, kita sesungguhnya sedang melaksanakan perintah Allah Ta’ala — dan menjalankan perintah Allah adalah bagian dari ibadah itu sendiri. Allah memerintahkan hamba-Nya untuk bersyukur dalam banyak ayat Al-Qur’an, di antaranya Surah Al-Baqarah ayat 152 dan ayat 172:
فَٱذْكُرُونِىٓ أَذْكُرْكُمْ وَٱشْكُرُوا۟ لِى وَلَا تَكْفُرُونِ
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.”
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُلُوا۟ مِن طَيِّبَٰتِ مَا رَزَقْنَٰكُمْ وَٱشْكُرُوا۟ لِلَّهِ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.”
- Bersyukur Menjadi Sebab Bertambahnya Nikmat
Salah satu janji Allah yang paling menggembirakan adalah bahwa syukur akan mendatangkan tambahan nikmat, sementara kufur nikmat akan mengundang azab yang sangat pedih. Allah Ta’ala berfirman dalam Surah Ibrahim ayat 7:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih’.”
- Bersyukur Mendatangkan Ridha Allah Ta’ala
Orang yang senantiasa bersyukur akan meraih ridha Allah Ta’ala — sebuah pencapaian tertinggi yang didambakan setiap hamba. Sebaliknya, Allah Ta’ala tidak meridhai kekufuran bagi hamba-hamba-Nya. Hal ini termaktub dalam Surah Az-Zumar ayat 7:
إِن تَكْفُرُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ عَنكُمْ ۖ وَلَا يَرْضَىٰ لِعِبَادِهِ ٱلْكُفْرَ ۖ وَإِن تَشْكُرُوا۟ يَرْضَهُ لَكُمْ
“Jika kamu ingkar maka sesungguhnya Allah Maha Kaya atas kalian dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu.”
- Bersyukur Menjadi Pelindung dari Azab Allah
Salah satu sebab seseorang terhindar dari azab Allah adalah dengan senantiasa bersyukur dan beriman kepada-Nya. Hal ini ditegaskan Allah dalam Surah An-Nisa ayat 147:
مَّا يَفْعَلُ ٱللَّهُ بِعَذَابِكُمْ إِن شَكَرْتُمْ وَءَامَنتُمْ ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ شَاكِرًا عَلِيمًا
“Tidaklah Allah akan mengadzab kalian jika kalian bersyukur dan beriman. Dan sungguh Allah itu Syakir lagi Alim.”
Demikianlah uraian singkat namun penuh makna tentang keutamaan bersyukur kepada Allah Ta’ala beserta dalil-dalilnya dari Al-Qur’an dan Sunnah. Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjadikan kita termasuk dalam golongan hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur — baik dengan hati, lisan, maupun perbuatan. Aamiin. 🤲🏻
Referensi : suaramuhammadiyah


