Kemapanan dan kelimpahan fasilitas hidup seharusnya mendekatkan manusia kepada kesadaran akan kebesaran Allah. Namun kenyataannya, kemapanan justru kerap membuat manusia lalai dan menjauh dari-Nya.
Kelalaian terhadap Sang Pencipta tidak hanya berujung pada pengabaian kewajiban, tetapi seringkali mendorong manusia terjerumus ke dalam pelanggaran dan kemaksiatan. Sikap inilah yang mengundang peringatan dari Sang Penguasa alam semesta — dan bagi mereka yang tetap angkuh, kebinasaan menjadi ujungnya.
Kenikmatan dunia telah berulang kali menghancurkan berbagai generasi yang terlena dan terperosok dalam kubangan dosa. Daya tarik dunia memang begitu kuat dan sulit dihindari. Manusia menikmatinya tanpa batas dan tanpa kendali. Ketika dunia telah sepenuhnya menguasai seseorang, daya rusaknya menjadi luar biasa dahsyat.
Disfungsi Hati: Ketika Organ Vital Tak Lagi Berfungsi
Allah menganugerahkan manusia organ-organ vital yang sangat berharga — pendengaran, penglihatan, dan hati. Ketiganya berfungsi sebagai penopang dalam setiap pengambilan keputusan dan penilaian. Namun anugerah besar ini kerap terabaikan karena godaan untuk memuaskan hasrat dan mengejar kenikmatan duniawi.
Dunia yang semestinya hanya menjadi sarana justru berubah menjadi tujuan utama. Daya tariknya yang begitu kuat membuat manusia terlena hingga lupa diri. Al-Qur’an mengabadikan gambaran manusia yang seluruh energinya tersedot untuk meraih dunia sebagaimana firman Allah:
“Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang sebelum mereka? Orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah sekali-kali tidak berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri sendiri.” (QS. Ar-Rūm: 9)
Begitu besarnya perhatian manusia untuk meraih kemapanan dunia hingga ketika mencapai puncaknya, mereka justru berbalik arah dan terjerumus dalam kemaksiatan. Kekayaan menjadikan mereka berlaku zalim, bertindak sewenang-wenang, dan merasa bisa berbuat segalanya dengan harta yang dimiliki.
Kasih sayang Allah kemudian hadir — pada saat mereka tenggelam dalam pelanggaran itu, diutuslah seorang pemberi peringatan. Sang utusan mengingatkan dampak buruk dari perilaku mereka, menunjukkan jalan keluar agar terhindar dari kerusakan, sekaligus memperingatkan penyesalan yang akan datang bila mereka tidak segera menghentikan perbuatan buruknya.
Namun alih-alih berbenah, mereka justru semakin larut menikmati dunia. Mereka terus membangun kemewahan fisik — istana, gedung megah, jalan-jalan, dan berbagai fasilitas mewah lainnya. Sayangnya, pembangunan fisik yang masif ini sama sekali tidak disertai dengan perbaikan hati, tidak memfungsikan pendengaran, dan tidak mengoptimalkan penglihatan untuk merenungi kebenaran.
Akibatnya, kezaliman terus berlanjut tanpa henti — hingga mereka pun dibinasakan karenanya. Al-Qur’an mengabadikan hal tersebut:
“Berapalah banyaknya kota yang Kami telah membinasakannya, yang penduduknya dalam keadaan zalim, maka (tembok-tembok) kota itu roboh menutupi atap-atapnya dan (berapa banyak pula) sumur yang telah ditinggalkan dan istana yang tinggi.” (QS. Al-Hajj: 45)
Al-Qur’an menggambarkan pola hidup manusia yang berorientasi total pada dunia — membangun rumah-rumah mewah di tempat-tempat tinggi bukan sebagai tempat tinggal, melainkan sebagai arena menikmati kemewahan dengan perbuatan-perbuatan yang menyimpang. Karunia Allah yang begitu besar berupa kemewahan justru tidak menggerakkan mereka untuk menebar kebaikan, melainkan semakin menumpuk dosa.
Allah pun membinasakan mereka karena pendengaran, penglihatan, dan hati yang tidak difungsikan sebagaimana mestinya. Al-Qur’an merekam kenyataan ini:
“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.” (QS. Al-Hajj: 46)
Ikatan Dunia: Tipu Daya yang Menghapus Kesadaran Akhirat
Ketika seseorang terlalu larut menikmati kehidupan dunia, ia kerap berprasangka bahwa hidupnya akan bertahan selamanya — hingga akhirnya menolak percaya pada kehidupan setelah kematian. Mereka meyakini tidak ada hari pertanggungjawaban, karena dalam benak mereka, kematian adalah akhir dari segalanya.
Mereka telah tertipu oleh gemerlap dunia, hingga melupakan seluruh janji-janji Allah yang telah disampaikan para utusan-Nya. Padahal para utusan Allah telah dengan tegas menyampaikan bahwa kehidupan setelah mati pasti akan tiba — hari kebangkitan akan datang untuk membalas amal kebaikan dengan surga dan menghukum amal keburukan dengan neraka.
Setan pun mengambil peran aktif dalam kelalaian ini. Ia menipu dan melupakan manusia dari kepastian hari pertemuan dengan Tuhannya. Dengan fasilitas dunia yang lengkap, setan leluasa menghiasi perbuatan buruk seolah tampak indah dan menyenangkan, sementara perbuatan baik dibuat terasa melelahkan dan tidak menarik. Allah berfirman:
“Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah setan yang pandai menipu memperdayakan kamu tentang Allah.” (QS. Fāthir: 5)
Daya rusak dunia bekerja begitu cepat dan berujung pada perendahan martabat manusia serendah-rendahnya. Seseorang yang awalnya mulia — di masa hidupnya belum mapan ia bekerja keras, jujur, dan disiplin — berubah drastis begitu nasibnya beranjak ke puncak kekayaan. Kemewahan yang melimpah justru mengubahnya menjadi manusia yang zalim hingga kepribadian aslinya yang mulia pun sirna.
Kondisi ini jauh berbeda dengan orang-orang beriman yang mampu mengendalikan diri di hadapan kenikmatan dunia. Mereka memanfaatkan dunia sebagai sarana untuk menebarkan kebaikan — bersedekah, membantu sesama, hingga berjuang di jalan Allah dengan penuh keikhlasan.
Referensi : Dr. Slamet Muliono Redjosari | majelistabligh.id

