Nikmat dan karunia Allah SWT yang dianugerahkan kepada manusia sungguh tak terhingga jumlahnya — dimulai sejak dirinya masih berwujud nuthfah di dalam rahim seorang ibu, hingga kemudian lahir ke dunia dengan dianugerahi anggota badan yang kokoh dan sempurna, penglihatan, pendengaran, akal pikiran, serta hati nurani. Untuk menopang kelangsungan hidupnya, Allah SWT pun menyediakan berbagai bahan dan sarana yang diperlukan — mulai dari bahan makanan yang bersumber dari tumbuh-tumbuhan, air, udara, binatang ternak, hingga kemampuan untuk menaklukkan alam semesta.
Allah SWT berfirman:
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani agar kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl [16]: 78)
“(Dialah) yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dialah yang menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia hasilkan dengan (hujan) itu buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Karena itu janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 22)
“Allah-lah yang menundukkan laut untukmu agar kapal-kapal dapat berlayar di atasnya dengan perintahnya, dan agar kamu dapat mencari sebagian karunia-Nya, dan agar kamu bersyukur. Dan Dia menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untukmu semuanya (sebagai rahmat) darinya. Sungguh, dalam hal yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang mau berpikir.” (QS. Al-Jasiyah [45]: 12-13)
Seluruh nikmat dan karunia Allah SWT yang diberikan kepada manusia tersebut pada dasarnya bertujuan agar manusia bersyukur — baik melalui lisannya dengan cara memuji dan menyanjung-Nya, maupun melalui anggota badannya dengan cara menundukkannya untuk senantiasa taat dan patuh kepada-Nya. Meski demikian, nikmat dan karunia tersebut bukanlah alasan bagi Allah untuk dihormati. Bagi Allah, bersyukur atau kufurnya manusia sama sekali tidak akan mengurangi kemuliaan-Nya. Namun sebagai makhluk ciptaan-Nya, menunjukkan akhlak mulia kepada Allah dengan senantiasa bersyukur adalah kewajiban yang melekat pada setiap manusia.
Makna Sikap Syukur dalam Islam
Sikap syukur berkaitan dengan mengungkapkan rasa terima kasih kepada Dzat yang telah menganugerahkan berbagai kenikmatan, serta memanfaatkan hal-hal yang membuat-Nya ridha. Syukur merupakan salah satu kualitas kesempurnaan yang menumbuhkan dan melanggengkan nikmat-nikmat yang diterima seseorang.
Allah SWT berfirman:
“…Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Luqman [31]: 12)
“Dan ingatlah, tatkala Tuhanmu memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.'” (QS. Ibrahim [14]: 7)
Bersyukur kepada Allah SWT akan membuat manusia semakin dekat dengan-Nya, memperoleh ridha-Nya, serta semakin mendapat curahan nikmat dan anugerah dari-Nya. Sebaliknya, sikap tidak bersyukur merupakan karakter pribadi-pribadi yang hina. Al-Qur’an bahkan menegaskan bahwa sikap tidak bersyukur menjadi faktor utama kejatuhan bangsa-bangsa dan hilangnya keberkahan dari mereka.
Kisah Peringatan: Negeri yang Ingkar terhadap Nikmat
Allah SWT berfirman:
“Allah membuat perumpamaan tentang suatu negeri yang dahulunya aman sentosa, rezekinya mengalir dari seluruh penjuru negeri. Namun mereka tidak bersyukur (ingkar) terhadap nikmat-nikmat Allah, maka Allah menimpakan kepada mereka bencana kelaparan dan ketakutan sebagai akibat perbuatan mereka.” (QS. An-Nahl [16]: 112)
Kisah Kaum Saba’ yang Ingkar Nikmat
Allah SWT berfirman:
“Sungguh, bagi kaum Saba’ ada tanda-tanda (kebesaran Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri, (kepada mereka dikatakan), ‘Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik (nyaman) sedang (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.’ Tetapi mereka berpaling, maka Kami kirim kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Asl dan sedikit pohon Sidr. Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir.” (QS. Saba’ [34]: 15-17)
Saba’ adalah nama raja-raja negeri Yaman sekaligus penduduknya. Ratu Balqis, teman wanita Nabi Sulaiman, termasuk salah seorang dari raja-raja Yaman tersebut. Kerajaan Saba’ terkenal dengan hasil alamnya yang melimpah ruah, sehingga banyak orang berhijrah untuk berdagang ke sana. Allah SWT mengaruniakan kepada negeri Saba’ kebun yang sangat luas, terletak di hamparan lembah antara dua gunung di Ma’rib. Tanahnya sangat subur dan menghasilkan buah-buahan berlimpah.
Kemudian Allah SWT mengutus para rasul-Nya kepada mereka, yang memerintahkan agar mereka memakan rezeki yang telah dikaruniakan Allah sekaligus bersyukur kepada-Nya dengan cara mengesakan dan menyembah-Nya. Namun mereka berpaling dari perintah para rasul tersebut. Allah SWT pun murka dan menghancurkan mereka dengan mendatangkan azab berupa banjir besar yang memporak-porandakan seluruh negeri mereka — sebuah balasan bagi orang-orang kafir yang tidak mau mensyukuri nikmat-Nya.
Syukur Bukan untuk Kepentingan Allah, Melainkan untuk Diri Sendiri
Ketika Allah SWT memerintahkan manusia untuk bersyukur kepada-Nya, perintah itu sama sekali bukan untuk kepentingan Allah. Allah SWT Maha Kaya dari segalanya, tidak membutuhkan apa pun dari makhluk-Nya — bahkan makhluklah yang senantiasa membutuhkan-Nya. Maka syukur sesungguhnya demi kebaikan sang hamba sendiri, karena manfaat dan pahala syukur akan kembali kepada hamba tersebut, baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Allah SWT berfirman:
“Barangsiapa bersyukur, maka sesungguhnya ia mensyukuri dirinya sendiri. Barangsiapa kufur, sesungguhnya Allah Maha Kaya dan Maha Terpuji.” (QS. Luqman [31]: 12)
Seandainya seluruh manusia kufur dan tidak ada satu pun yang bersyukur kepada Allah SWT, hal itu sama sekali tidak akan membahayakan Allah, karena Allah Maha Kaya.
Nikmat sebagai Ujian: Kisah Nabi Sulaiman
Terkadang Allah SWT memberikan rezeki yang melimpah dan nikmat yang berlipat kepada seorang hamba sebagai bentuk ujian — apakah ia akan bersyukur atau justru kufur, sebagaimana yang terjadi pada Nabi Sulaiman AS. Allah SWT berfirman:
“Sulaiman berkata, ‘Ini adalah bagian dari kemurahan Tuhan untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau kufur. Barangsiapa bersyukur, maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri. Barangsiapa kufur, maka sesungguhnya Allah Mahakaya dan Maha Pemurah.'” (QS. An-Naml [27]: 40)
Watak Manusia yang Sering Lupa Bersyukur
Kebanyakan manusia seringkali abai terhadap rasa syukur. Ketika diberi rezeki dan karunia yang sedikit, mereka sangat mudah mengeluh. Tatkala diberi cukup, mereka menginginkan lebih banyak. Manakala telah diberi banyak, mereka masih menginginkan yang lebih banyak lagi. Ketika mendapat nikmat, mereka lupa bersyukur — namun saat ditimpa musibah, mereka dengan mudah mengeluh, bahkan sampai memberontak kepada Tuhan.
Sikap manusia yang demikian muncul karena kebanyakan dari mereka lebih senang memperturutkan hawa nafsu yang membuatnya tidak pernah merasa puas dan cukup dalam menjalani hidup. Kaum Saba’ telah dianugerahi kemakmuran yang luar biasa, tanah air yang subur dan makmur. Namun setelah memperoleh karunia Allah yang melimpah itu, mereka lupa bersyukur, bahkan ingkar terhadap nikmat tersebut. Mereka berbuat durhaka dan menyimpang dari ajaran Allah — hingga akhirnya Allah musnahkan mereka dengan azab yang sangat dahsyat. Karena itulah Allah melukiskan perangai kaum Saba’ sebagai kaum yang tidak pandai bersyukur.
Godaan Iblis terhadap Rasa Syukur Manusia
Allah SWT memerintahkan manusia untuk senantiasa bersyukur dan melarang sikap kufur, karena syukur memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam ajaran Islam. Bahkan karena tingginya kedudukan syukur ini, Iblis secara khusus berusaha menggoda manusia dan menyatakan bahwa kebanyakan dari mereka tidak mau bersyukur. Al-Qur’an telah mengingatkan bahwa Iblis akan senantiasa menggoda anak cucu Adam demi menggelincirkan mereka dari jalan yang lurus.
Allah SWT berfirman:
“(Iblis) menjawab, ‘Karena Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus, kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.'” (QS. Al-A’raf [7]: 16-17)
Tiga Syarat Kesempurnaan Syukur yang Hakiki
Syukur pada hakikatnya adalah memuji Sang Pemberi nikmat atas nikmat dan kebaikan yang telah diberikan. Syukur yang hakiki tidak akan sempurna kecuali dengan terpenuhinya tiga hal, yaitu: mengakui nikmat dalam batin, membicarakannya secara lahir, dan menjadikannya sarana untuk taat kepada Allah SWT. Karena itulah syukur senantiasa berkaitan dengan hati, lisan, dan anggota badan.
Hati — untuk mengetahui bahwa nikmat-nikmat itu benar-benar nikmat, lalu menyandarkannya kepada Sang Pemberi, kemudian berbahagia dan bergembira dengan nikmat tersebut.
Lisan — untuk menyebut dan memuji Allah SWT yang telah memberikan nikmat.
Anggota badan — untuk memanfaatkan nikmat yang diterima sebagai sarana menjalankan ketaatan kepada-Nya.
Ada orang yang dikaruniakan nikmat namun tidak menyadari bahwa itu sesungguhnya adalah nikmat — orang seperti ini jelas tidak akan pernah bersyukur. Ada pula orang yang mendapatkan nikmat dan menyadari bahwa itu adalah nikmat, tetapi hatinya tidak bahagia menerimanya — sehingga meski ia bersyukur, syukurnya tidak sepenuh hati. Sementara itu, ada pula orang yang menyadari bahwa itu adalah nikmat dan bergembira menerimanya, namun menggunakannya untuk hal-hal yang tidak diridhai Allah SWT — orang seperti ini pun bukan termasuk yang bersyukur dengan syukur yang hakiki.
Syukur yang hakiki adalah ketika seseorang menyadari bahwa itu adalah nikmat, berbahagia memperolehnya, dan menggunakan nikmat tersebut dalam hal-hal yang diridhai Allah SWT.
Praktik Nyata Rasa Syukur dalam Kehidupan
Oleh karena syukur harus melibatkan hati, lisan, dan anggota badan sekaligus, maka ketika seorang Muslim bersyukur kepada Allah SWT atas karunia harta benda yang diperolehnya, hal pertama yang harus dilakukan adalah mengetahui dan mengakui bahwa seluruh harta yang didapatnya adalah karunia dari Allah SWT. Usaha yang ia lakukan hanyalah sebab atau ikhtiar semata — tanpa adanya taufik dari Allah SWT, usaha tersebut tidak akan menghasilkan apa yang diinginkan.
Setelah itu, barulah ia mengungkapkan rasa syukurnya dalam bentuk pujian kepada Allah SWT. Kemudian ia buktikan rasa syukur itu melalui amal perbuatan — dengan memanfaatkan harta tersebut pada jalan yang diridhai-Nya, baik untuk kepentingan diri sendiri, keluarga, maupun untuk kepentingan umat secara luas.
Perbedaan antara Syukur dan Al-Hamdu
Syukur berbeda dengan Al-Hamdu (pujian). Syukur adalah respons atas nikmat atau pemberian yang diterima dari Allah SWT. Sementara Al-Hamdu menyangkut sifat terpuji yang melekat pada Dzat yang dipuji, tanpa harus dikaitkan dengan keharusan sang pemuji mendapatkan nikmat atau pemberian dari-Nya.
Sebagaimana kita memuji Allah atas segala nikmat-Nya, kita juga memuji-Nya atas keadilan-Nya, ilmu-Nya, kekuasaan-Nya, kekuatan-Nya, dan seluruh sifat ketuhanan-Nya. Kita memuji Allah atas segala yang ditakdirkan-Nya — baik itu berupa nikmat maupun musibah.
Rasulullah SAW bersabda:
“Mengagumkan! Orang mukmin seluruh urusannya adalah baik. Itu tidak terjadi kecuali pada orang mukmin. Jika mendapat kemudahan, dia bersyukur dan itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim)
Demikianlah, manusia berkewajiban untuk senantiasa bersyukur kepada Allah SWT — baik dalam keadaan lapang maupun sempit — sebagai wujud nyata rasa terima kasih kepada-Nya atas segala nikmat yang telah dianugerahkan.
Referensi : suaramuhammadiyah.id


