Dunia digital telah menjelma menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan anak-anak, bahkan sejak mereka masih kecil. Platform media sosial yang dahulu hanya diakrabi oleh orang dewasa, kini telah berubah menjadi ruang bagi anak-anak untuk berekspresi, menjalin interaksi, bahkan menyerap ilmu pengetahuan. Namun di balik segala kemudahan dan hiburan yang tersaji, media sosial menyimpan pengaruh yang sangat besar terhadap pembentukan akhlak, kematangan emosi, dan kondisi spiritualitas anak. Sebagai orang tua Muslim, kita tak bisa berpaling dari kenyataan ini. Melarang tanpa disertai pendidikan bukanlah jawaban, sementara membiarkan tanpa arahan bisa menimbulkan akibat yang sangat serius. Karena itu, peran kita adalah menjadi kompas yang mengarahkan anak agar senantiasa berpegang teguh pada nilai-nilai Islam di tengah dahsyatnya gelombang dunia maya.
- Tumbuhkan Keyakinan Bahwa Allah Senantiasa Mengawasi
“Tidakkah kamu mengetahui bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang melainkan Dialah yang keempat.” (QS. Al-Mujādilah: 7)
Anak perlu ditanamkan pemahaman bahwa dunia maya bukanlah ruang hampa yang bebas dari pengawasan. Mungkin saja tidak ada guru, aparat, maupun orang tua yang menyaksikan aktivitas mereka di sana — namun Allah selalu mengetahui setiap hal yang mereka kerjakan, tuliskan, dan saksikan. Tanamkan nilai ihsan sejak dini: berperilaku dan beribadah seolah-olah dapat melihat Allah, dan bila belum mampu, yakinilah bahwa Allah pasti melihat kita. Nilai luhur ini dapat menjadi “filter spiritual” yang melindungi anak ketika menghadapi berbagai godaan di media sosial, mulai dari konten tak layak hingga ajakan yang mengarah pada keburukan.
“Barang siapa menunjukkan suatu kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang melakukannya.” (HR. Muslim no. 1893)
Media sosial sesungguhnya bisa menjadi wahana untuk menyemai kebaikan. Anak-anak dapat dibimbing untuk memanfaatkan media sosial dengan niat ibadah — menyebarkan pesan-pesan positif, berbagi pengetahuan bermanfaat, atau sekadar menuliskan doa yang mampu menenangkan hati orang lain. Di sinilah peran orang tua sebagai teladan sangat penting. Ketika anak menyaksikan ayah dan ibunya rutin membagikan ayat-ayat Al-Qur’an, kisah-kisah inspiratif, atau ungkapan rasa syukur, secara alami mereka akan mengikuti jejak tersebut dengan cara mereka sendiri.
“Katakanlah kepada orang-orang mukmin laki-laki agar mereka menundukkan pandangannya dan menjaga kemaluannya…” (QS. An-Nūr: 30)
Konsep ghadhul bashar atau menundukkan pandangan tidak hanya berlaku dalam kehidupan nyata, tetapi juga relevan di ranah digital. Begitu banyak konten yang secara terselubung menormalisasi hal-hal yang dilarang agama atau perlahan-lahan mengikis rasa malu. Orang tua perlu membantu anak memahami batasan-batasan tersebut — bukan semata melalui larangan, melainkan dengan memberikan pemahaman yang berlandaskan dalil syar’i dan pertimbangan psikologis. Ketika anak melihat orang tuanya pun rela mematikan ponsel pada waktu-waktu tertentu, mereka akan belajar bahwa kehangatan kebersamaan, cinta keluarga, dan khusyuknya ibadah jauh lebih bernilai dibanding sekadar notifikasi di layar.
“Apabila datang kepada kamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya.” (QS. Al-Hujurāt: 6)
Arus informasi di media sosial mengalir begitu deras, namun tidak semuanya dapat dipercaya kebenarannya. Anak-anak perlu dibekali dengan literasi digital Islami: sikap tabayyun atau verifikasi terlebih dahulu sebelum mempercayai maupun menyebarkan suatu informasi. Ajari mereka untuk tidak terburu-buru dalam menyebarkan berita, terlebih yang berpotensi menimbulkan fitnah di tengah masyarakat. Berikan pemahaman mendalam bahwa menyebarkan kebohongan — meskipun tanpa niat buruk — tetap dapat menjadi dosa besar di sisi Allah. Dengan pembiasaan seperti ini, anak akan tumbuh menjadi pengguna media sosial yang kritis, beretika, dan selaras dengan nilai amanah dalam ajaran Islam.
- Iringi Selalu dengan Doa dan Pendampingan Tulus
“Doa orang tua untuk anaknya adalah doa yang mustajab.” (HR. Tirmidzi no. 1905)
Tidak ada benteng perlindungan yang lebih kokoh daripada doa yang tulus. Seiring teknologi yang terus berkembang, doa tetap menjadi penjaga yang tak tergantikan oleh apapun. Ketika anak mulai aktif menggunakan media sosial, panjatkan doa agar Allah menjaga matanya dari konten yang merusak, lisannya dari komentar yang menyakiti, serta hatinya dari penyakit kesombongan digital.
Selain doa, pendampingan emosional pun tidak kalah pentingnya. Jadilah sahabat sejati bagi anak, bukan hakim yang menghakimi. Ciptakan suasana aman agar mereka merasa nyaman bercerita tentang apa yang mereka lihat dan alami di dunia maya.
Media sosial tidak harus menjadi sesuatu yang menakutkan — namun ia harus dikendalikan dengan bijak. Di tangan anak yang dibekali keimanan yang kuat, media sosial bisa menjelma menjadi jalan dakwah, sarana belajar, dan arena menebar kebaikan. Namun tanpa bimbingan, ia bisa menjadi pintu masuk perusakan akhlak dan penghabis waktu yang sia-sia. Tugas kita sebagai orang tua bukan melarang, melainkan mendampingi dengan sepenuh cinta dan doa — bukan sekadar mengawasi, tetapi menanamkan cahaya iman di sanubari mereka, sehingga ketika jauh dari kita, mereka tetap selalu dekat dengan Allah.
Referensi : Majalah Matahati Edisi 24

