Safari Ramadan Bersama Syekh dari Palestina

Safari Ramadan Bersama Syekh dari Palestina

Ramadan di Indonesia identik dengan suasana hangat, suara tadarus yang bersahutan, dan momen berbuka puasa yang tenang bersama keluarga. Namun, suasana damai ini menjadi pemandangan yang sangat mahal bagi saudara-saudara kita di tanah Palestina.

Pada pertengahan Ramadan kemarin, tepatnya 26-27 Februari 2026 (bertepatan dengan hari ke-9 dan ke-10 puasa), Lazismu Kabupaten Malang mendapat kehormatan luar biasa. Kami menyambut kehadiran Syekh Muhammad Syamkallah, seorang pemuda asal Gaza, Palestina, yang hadir untuk melakukan safari dakwah sekaligus menjadi imam di beberapa masjid di wilayah Kabupaten Malang.

Syekh Muhammad Syamkallah adalah sosok yang inspiratif. Di usianya yang masih sangat muda (kelahiran 2004), beliau kini sedang menempuh studi kedokteran di Universitas Alexandria, Mesir. Di balik senyum ramahnya, beliau memendam rindu yang mendalam.

Seluruh keluarganya—termasuk empat orang saudaranya—saat ini masih bertempat tinggal di Gaza. Di sela-sela kegiatannya, beliau berbagi cerita tentang kondisi tanah kelahirannya yang hingga kini belum membaik akibat konflik yang tak kunjung usai. Bagi beliau, setiap hari adalah perjuangan untuk bertahan hidup.

Jejak Langkah Safari Dakwah Ramadan

Selama dua hari kunjungannya, Syekh Muhammad Syamkallah menyusuri beberapa titik di Kabupaten Malang untuk menyapa jamaah dan memimpin salat. Langkah kakinya menyebarkan semangat perjuangan di:

  • Masjid Al Furqon, Dau: Menjadi imam salat Isya dan Tarawih yang penuh kekhusyukan.
  • Masjid Khodijah, Bululawang: Mengisi malam Ramadan dengan lantunan ayat suci yang menggetarkan hati.
  • Masjid Attanwir, Semanding: Memimpin salat Subuh berjamaah yang syahdu.

Pesan dari Palestina: Syukur adalah Kekuatan

Bersama Syekh Muhammad, kita diingatkan betapa beruntungnya kita bisa menjalankan Ramadan dengan sangat damai di sini. Beliau menceritakan betapa rakyat Gaza merindukan momen berkumpul dengan keluarga tanpa rasa takut—sebuah suasana hangat yang kini hanya bisa mereka lantunkan dalam doa.

Kehadiran beliau bukan sekadar untuk bercerita, tapi untuk mengingatkan kita semua bahwa setiap bantuan, doa, dan upaya yang kita berikan memiliki dampak yang nyata. Palestina membutuhkan kita untuk bangkit kembali. Harapan itu masih ada, dan kitalah salah satu perantaranya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *