Skip to main content

LAZISMU MALANG

Harta yang Bermanfaat: Kekayaan Sejati dalam Pandangan Islam

Harta yang bermanfaat adalah kekayaan yang diperoleh dengan cara halal dan dipakai untuk kebaikan. Dalam ajaran Islam, harta yang sesungguhnya bukanlah yang ditumpuk. Harta sejati adalah yang disedekahkan dan diwakafkan. Itulah yang menjadi bekal amal jariyah dan penolong di akhirat.

Kisah Rabi’ bin Abi Rasyid dan Orang yang Sakit

Umar bin Dzar rahimahullah mengisahkan sebuah peristiwa. Rabi’ bin Abi Rasyid melihat seorang lelaki yang sedang sakit bersedekah. Lelaki itu membagikan hartanya kepada para tetangganya. Rabi’ pun berkata, “Hadiah adalah pembuka kedekatan sebelum kunjungan.”

Beberapa hari kemudian, lelaki itu meninggal dunia. Rabi’ menangis dan berkata:

“Demi Allah, orang tersebut telah mempersiapkan bekal dengan baik menghadapi kematiannya. Ia juga mengetahui bahwa tidak ada harta yang bermanfaat untuknya selain yang ia sedekahkan.” (Shifatush Shafwah, hlm. 469)

Kisah ini adalah nasihat berharga tentang sedekah. Kalimat “hadiah adalah pembuka kedekatan sebelum kunjungan” bermakna bahwa sedekah di dunia adalah cara kita menyiapkan amal. Sedekah menjadi jalan pembuka yang memudahkan perjalanan menuju akhirat dan perjumpaan dengan Allah SWT.

Pesan Utama dari Kisah Ini

  • Harta sejati. Harta di dunia akan kita tinggalkan. Harta hanya berguna jika kita sedekahkan di jalan Allah.
  • Persiapan bekal. Saat sakit atau mendekati ajal, orang yang cerdas akan memperbanyak sedekah sebagai bekal terbaik setelah mati.
  • Sikap Rabi’. Tangisan Rabi’ menunjukkan rasa kagum dan haru. Ia melihat orang yang benar-benar paham cara “mengirim” hartanya ke akhirat sebelum ia wafat.

Tiga Jalur Pemanfaatan Harta yang Tepat

Sebaik-baik harta adalah yang berada di tangan orang saleh, yang tahu cara mencari dan memanfaatkannya untuk kemaslahatan dunia dan akhirat. Agar pengelolaan harta lebih terarah, ada tiga jalur utama:

  1. Untuk kebutuhan sendiri. Gunakan secukupnya untuk nafkah keluarga, makanan, dan pakaian yang halal dan thayyib (baik), tanpa berlebihan dan tanpa kikir.
  2. Investasi akhirat. Harta yang diinfakkan, dizakatkan, atau diwakafkan di jalan Allah.
  3. Bermanfaat bagi sesama. Harta yang dipakai untuk membantu kerabat, menyantuni anak yatim, dan memberdayakan masyarakat.

Sebaik-baik Harta di Tangan Orang Saleh

Harta bukanlah tujuan akhir, melainkan alat. Di tangan orang saleh yang bertakwa dan bijak, harta menjadi berkah. Ia digunakan untuk kebaikan, membantu sesama, dan mendekatkan diri kepada Allah.

Hal ini sejalan dengan hadis dari Amru bin Ash radhiyallahu ‘anhu. Ia berkata bahwa Rasulullah SAW mengutus seseorang kepadanya, memintanya membawa pakaian dan senjata, lalu menemui beliau. Amru datang saat beliau sedang berwudu. Beliau memandangnya dengan serius dan mengangguk-anggukkan kepala. Lalu beliau bersabda:

“Aku ingin mengutusmu memimpin sepasukan prajurit. Semoga Allah menyelamatkanmu, memberimu ghanimah, dan aku berharap engkau mendapat harta yang baik.”

Amru menjawab, “Wahai Rasulullah, aku tidak memeluk Islam karena ingin harta. Aku memeluk Islam karena cinta kepada Islam dan berharap bisa bersama Rasulullah.” Maka beliau bersabda:

“Wahai Amru, sebaik-baik harta adalah harta yang dimiliki oleh hamba yang saleh.” (HR. Ahmad 4/197. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth menyatakan sanadnya sahih sesuai syarat Muslim)

Hadis ini mengandung hikmah bahwa orang saleh adalah orang yang memperhatikan dan menunaikan hak-hak Allah serta hak-hak sesama. Harta yang baik adalah harta yang dimanfaatkan untuk kemaslahatan dunia dan akhirat.

Referensi : majelistabligh.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *