Skip to main content

LAZISMU MALANG

Prof. Dr. KH. Haedar Nashir, M.Si.

Bersyukur Mengantarkan Diri Lebih Dekat kepada Allah

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. KH. Haedar Nashir, M.Si., mengutip Surat At-Takwir ayat 26: “Fa Aina Tadzhabûn” — ke mana kalian akan pergi? Menurut Haedar, redaksi ayat ini memang singkat. Namun di balik kesingkatannya, ayat ini menyimpan pengajaran yang sangat mendalam. Ayat ini menjadi sindiran bagi kaum kafir yang tidak percaya pada kehidupan akhirat setelah kehidupan dunia.

“Jadi ketika Nabi berdakwah tentang Islam yang membawa keselamatan pada hidup di dunia dan akhirat, kaum kafir tidak percaya. Maka, atas itu Allah menurunkan bagian dari frasa ayat itu dalam bentuk pertanyaan. Sejatinya manusia itu siapapun dia, tidak akan lepas pada kematian dan setelah mati dia (manusia) akan menjalani hidup baru (kehidupan di akhirat),” ujarnya.

Dunia Adalah Jalan Menuju Akhirat

Haedar juga menegaskan bahwa perjalanan hidup menuju akhirat tidak memiliki jalan lain, kecuali dengan menempuh kehidupan di dunia terlebih dahulu. Dunia adalah tempat manusia menjalani hidup melalui berbagai aktivitas — sekolah, kuliah, bekerja, dan berbagai kegiatan lain yang melahirkan kebermanfaatan secara berkelanjutan.

“Jadi, kita hidup di dunia adalah hidup di dekat atau di tempat di mana dia dekat dengan kita. Dunia tempat kita hidup itu nyata harus kita jalani,” katanya.

Dalam menjalani kehidupan di dunia, manusia yang beriman pasti diberi bekal dan petunjuk oleh Allah. Bekal ini bertujuan agar manusia menjalani hidup dengan benar dan memiliki arah yang jelas, sebagaimana tertuang dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Inilah keniscayaan Allah bagi setiap hamba-Nya yang benar-benar beriman secara autentik — bukan iman yang parsial atau jauh dari kenyataan.

Bekal yang Melekat pada Setiap Manusia

“Orang beriman itu diberi bekal yang melekat dengan dirinya yang itu juga berlaku buat manusia. Cuman bedanya ada yang dipergunakan ada yang tidak. Yakni, akal pikiran, rasa, hati, dan seluruh yang kita miliki. Ini adalah anugerah Allah, hanya kadang kita lupa sehari-hari bersama dengan kita sering kita sia-siakan,” ucapnya.

Menurut Haedar, seluruh anugerah Allah yang diberikan kepada manusia harus mengantarkan manusia untuk mendekatkan diri kepada-Nya (taqarrub ilallah). Artinya, manusia harus menjadi pribadi yang senantiasa bersyukur dan memiliki kecenderungan beriman kepada-Nya.

Ia menjelaskan, perbedaan mendasar antara manusia beriman dengan yang tidak beriman terletak pada sikap keingkaran terhadap nikmat yang Allah berikan — nikmat yang sedemikian besar dan diberikan secara cuma-cuma tanpa syarat.

Kasih Sayang Allah yang Luar Biasa

“Tuhan Kasih Sayang-Nya luar biasa. Selain memberikan anugerah yang kita miliki, itu diberi juga lingkungan yang murah, gratis, sebagaimana pada umumnya negeri di tanah air tercinta. Tapi ketika kita tidak bisa memanfaatkannya dengan baik, lalu tidak maslahat. Bahkan ketika kita merusaknya menjadi mafsadah,” pungkasnya.

Pesan ini menegaskan bahwa setiap anugerah Allah — baik berupa akal, hati, maupun lingkungan tempat tinggal — harus disyukuri dan dimanfaatkan dengan bijak. Jika tidak, nikmat yang seharusnya membawa manfaat justru bisa berubah menjadi kerusakan bagi diri sendiri dan lingkungan sekitar.

Referensi : suaramuhammadiyah.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *