Kebahagiaan yang Tak Pernah Berkurang

Kebahagiaan yang Tak Pernah Berkurang: Membahagiakan Orang Lain dalam Islam

Ada satu hal yang unik tentang kebahagiaan: ketika ia dibagikan, ia tidak berkurang—justru bertambah. Semakin sering seseorang membahagiakan orang lain, semakin besar pula kebahagiaan yang ia rasakan dalam hidupnya sendiri.

Prinsip inilah yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ. Dalam sebuah kisah, seorang sahabat datang menemui Nabi Muhammad ﷺ dengan kegelisahan di hatinya. Ia mengeluhkan hatinya yang terasa keras dan hampa, seolah tidak mampu merasakan kebahagiaan dan ketenangan.

Mendengar keluhan tersebut, Rasulullah ﷺ memberikan nasihat yang sangat sederhana namun sarat makna. Beliau bersabda bahwa jika seseorang ingin hatinya menjadi lembut, tenang, dan bahagia, maka hendaklah ia memberi makan orang fakir miskin dan mengusap kepala anak yatim. Dua perbuatan ini menunjukkan satu prinsip besar dalam Islam: kebahagiaan lahir dari kepedulian dan kasih sayang kepada sesama.

Memberi makan orang yang lapar dan menyantuni anak yatim bukan sekadar amal sosial. Kedua perbuatan tersebut adalah bentuk nyata dari upaya menghadirkan kebahagiaan dalam kehidupan orang lain. Dan ketika seseorang membahagiakan pihak lain dengan tulus, dampaknya akan kembali pada dirinya sendiri berupa ketenangan jiwa dan kelembutan hati.

Rasulullah ﷺ adalah teladan utama dalam hal ini. Beliau merupakan manusia yang paling bahagia karena tujuan hidupnya sepenuhnya diabdikan untuk mendistribusikan kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat. Beliau merasa gelisah ketika melihat umatnya hidup dalam kesulitan, terlebih jika mereka terancam kehilangan kebahagiaan akhirat.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa amal yang paling dicintai oleh Allah ﷻ adalah amal yang membawa manfaat dan kebahagiaan bagi orang lain. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi ﷺ bersabda bahwa manusia yang paling dicintai Allah adalah mereka yang paling bermanfaat bagi sesama. Dan di antara amalan yang paling dicintai Allah adalah memasukkan kebahagiaan ke dalam hati seorang muslim, menghilangkan rasa laparnya, melunasi utangnya, atau meringankan kesulitannya.

أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ , وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ , أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً , أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا , أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا , وَلأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخِ فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ شَهْرًا

Bahkan, Rasulullah ﷺ menyatakan bahwa membantu seorang saudara muslim dalam sebuah keperluan lebih beliau cintai daripada beritikaf di Masjid Nabawi selama satu bulan penuh. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Thabrani dan dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani.

Pesan dari hadis ini sangat jelas: kebahagiaan sejati tidak terletak pada seberapa banyak yang kita miliki, melainkan pada seberapa besar manfaat yang bisa kita berikan. Ketika kita berusaha meringankan beban orang lain, sesungguhnya kita sedang membangun kebahagiaan dalam diri kita sendiri.

Oleh karena itu, bahagiakanlah orang-orang di sekitarmu. Ulurkan tangan kepada mereka yang membutuhkan, ringankan kesulitan yang ada di hadapanmu, dan tebarkan kebaikan di mana pun berada. Sebab dengan membahagiakan orang lain, engkau akan menemukan kebahagiaan yang tidak pernah berkurang.

Referensi :

https://pwmu.co/kebahagiaan-yang-tak-pernah-berkurang/

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *